Jumat, 27 November 2009

Falsafah Dasar Futsal?

Futsal adalah permainan yang sangat cepat dan dinamis. Dari segi ukuran lapangan yang relatif kecil hampir tidak ada ruangan untuk membuat kesalahan. Maka dari itu diperlukan kerjasama antar pemain lewat passing yang akurat, bukan mencoba untuk melewati lawan. Karena pemain selalu berangkat dengan falsafah 100% ball possesion. Akan tetapi melalui timing dan positioning yang tepat, kita akan merebut bola dari lawan.
Futsal adalah olahraga beregu. Kolektivitas tinggi akan mengangkat prestasi, contoh siapa yang membuat gol sama sekali tidak penting, yang penting adalah goal. Menang dan kalah itu terjadi di seluruh olahraga, akan tetapi if you die, you die with honour. Tidak ada pemain yang paling berjasa dalam satu tim, yang ada tim yang baik akan menjadikan pemain menjadi bintang.



Futsal harus dimainkan dengan fun dan enjoy. Jika kita bermain dari hati tanpa beban dan kita menikmati permainan ini, prestasi akan lebih cepat datangnya.

Minggu, 15 November 2009

Let’s Kick Racism Out of Football


Lets kick racism out of football !!!

Inilah kampanye perang terhadap tindakan rasialis yang tengah diusung FIFA selaku federasi sepakbola tingkat dunia. Berdasarkan peraturan FIFA yang diluncurkan pada bulan maret tahun 2006 lalu untuk meredam rasisme, klub akan mendapat pengurangan tiga angka untuk serangan rasis pertama, enam angka untuk serangan kedua dan bisa juga pertandingan akan dipindahkan ke tempat lain jika serangan rasis itu terus berulang. Atau bisa juga berupa denda dalam bentuk uang. Ketat juga nih aturan.

Tentu saja peraturan dari FIFA ini secara otomatis diamini oleh UEFA selaku badan Sepakbola Eropa atau Konfederasi Amerika Selatan (CSF). Termasuk federasi sepakbola di masing-masing negara Eropa. Seperti Federasi Sepakbola Spanyol (RFEF) yang telah memberikan sanksi denda 9.000 euro (11.000 dolar AS) kepada Real Zaragoza terkait perlakuan rasisme pada strikter el-Barca, Eto’o. (Media Indonesia Online, 12/04/06)

Atau, FIGC (Federasi Sepak Bola Italia) yang juga ngasih ‘hadiah’ pada tim Lazio berupa denda sebesar 8 ribu euro (sekitar Rp 88 juta). Pasalnya, beberapa suporter Lazio meneriakkan revolusi ala tokoh fasis Italia, Benito Mussolini, dengan membawa bendera bergambar simbol pegerakan Neo Nazi Italia, swastika saat menjamu Livorno di Stadion Armando Picchi. (Eramuslim, 15/12/05).

Padahal justru para pendukung Livorno menentang fasis. Ini sih emang nyari ribut! Juga KNVB (asosiasi sepak bola Belanda) yang menghukum Den Haag dengan sanksi menggelar pertandingan tanpa penonton di dua partai home mereka berikutnya. Ini buntut dari teriakan bernada pelecehan rasial yang dilakukan para suporter Den Haag kepada para pemain PSV yang berkulit hitam. (JawaPos.com, 25/11/04)

Bahkan sebuah pengadilan Inggris menjatuhkan denda 1.000 pound (1.880 dolar AS) dan larangan lima tahun menyaksikan pertandingan sepakbola secara langsung di lapangan pada seorang suporter Jason Perryman (22), yang menghina dengan teriakan monyet pada striker Birmingham City, Dwight Yorke. (Suara Merdeka, 26/11/04).

Sejauh ini FIFA emang udah mati-matian perang lawan rasisme ini. Sayangnya masih belum maksimal, karena rasisme lahir dari perasaan superior. Dan aturan FIFA cuma bisa menghimbau untuk tidak bersikap rasis, tapi tak mampu menjinakkan perasaan superior yang selalu hadir dalam setiap event olahraga sepak bola, bisa jadi gaung kampanye anti rasis yang digembor-gemborkan FIFA nggak pernah nyampe garis finish.